PROGRAM LITERASI “BERKARYA DALAM GORESAN TINTA”

 

PROGRAM LITERASI “BERKARYA DALAM GORESAN TINTA”

PENYUSUNAN MADING SEKOLAH 

Oleh: Rohmad Setyo Wibowo, S. Pd.


A.    Peristiwa (Fact)

Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan sangat sarat dengan arti yang harus dimengerti dan dipahami dengan baik oleh seorang pendidik. Tidak semata- mata seorang guru hanya mentransfer ilmu yang ada dibuku, apa yang dimiliki dan seluruh pengetahun kepada murid. Tidak hanya membuat program – program yang sebutulnya bagus dan sangat bermanfaat untuk murid tetapi tidak memandang kebutuhan murid. Program yang diharapkan adalah program yang dapat menumbuhkan serta mengembangkan kepemimpinan murid. Agar murid dapat berperan sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.

Melalui upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid maka secara tidak langsung kita menyediakan kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya.  Dari hal tersebut dengan dipadu pemanfaatan aset yang ada di sekolah dan sekitarnya serta berkoodinasi dengan seluruh pemangku kepentingan sekolah dan warga sekitar maka kami membuat program literasi yang berdampak pada murid kelas 6 yaitu Program Berkarya dalam Goresan Tinta”.

Program Berkarya dalam Goresan Tinta” ini berfokus pada menumbuhkan kemampuan literasi yang mana merupakan keterampilan penting dimiliki murid. Sebagian proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi, kemampuan literasi meliputi seluruh keterampilan berbahasa yaitu menyimak berbicara, membaca, dan menulis sehingga dalam program literasi membaca ini sesuai dengan salah satu karakteristik dari 7 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepemimpinan murid yaitu lingkungan yang melatih keterampilan yang di butuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non akademik.

Dalam pelaksanaanya, program Berkarya dalam Goresan Tinta” ini adalah sebuah program ekstrakurikuler berbasis literasi yang kegiatannya adalah membuat mading yang memiliki tujuan melatih murid untuk terampil menulis dan berani mempopulerkan tulisannnya serta melatih murid untuk bertanggungjawab, mandiri, dan kreatif atas apa yang telah diputuskan bersama. Melalui kegiatan Program “Berkarya dalam Goresan Tinta, saya ingin membangun lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana serta Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. Melatih murid untuk terampil menulis dan berani mempopulerkan tulisannnya.

Ada beberapa hal penting dalam melaksanakan Program Berkarya dalam Goresan Tinta” yaitu sebagai media saling bertukar informasi melalui tulisan (puisi, cerpen, cerita bergambar, portofolio hasil belajar anak), membangun budaya saling mendengarkan, melatih murid untuk bertanggungjawab, mandiri, dan kreatif, memberikan kesempatan murid untuk berdiskusi, memberikan kesempatan murid untuk membentuk kelompok dan menentukan jadwal pemasangan karya, memberikan kesempatan murid untuk menentukan karya/tulisan yang akan ditampilkan sesuai dengan bakat dan minatnya, melatih untuk berbagi melalui karya yang dipajang. Program “Berkarya dalam Goresan Tinta” ini dilaksanakan setiap Sabtu setelah jam istirahat dan diikuti oleh murid kelas 6.  Dalam pemilihan anggota kelompok dan jadwal pemasangan mading, murid diberi kebebasan untuk menentukannya. Setiap anggota kelompok membuat karya tulisan yang dikreasikan berdasarkan bakat dan minat mereka (puisi, cerpen, cerita bergambar, portofolio hasil belajar anak).

Aksi nyata ini di lakukan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR yang dilakukan guna memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Selain itu alasan utama dibalik program ini adalah pada terwujudnya wellbeing murid atau student wellbeing dan perkembangan murid secara holistik, murid yang bahagia. dan juga memiliki nilai – nilai pribadi yang unggul, berbudaya serta memiliki karakter profil pelajar pancasila. Tujuan Utama melaksanakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut:

  • v Membangun kesadaran murid atas pentingnya kemampuan literasi khususnya membaca, menulis, dan berbicara untuk mendukung pembelajaran yang efektif
  • v  Menumbuhkan kemampuan berprikir kritis murid
  • v  Menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid
  • v  Menjadikan kegiatan literasi sebagai budaya positif di sekolah
  • v  Melatih kemandirian murid dalam memecahkan masalah 
  • v  Menumbuhkan budi pekerti dan kepribadian yang baik kepada murid

 

Proses Aksi

Langkah pertama yang dilakukan untuk menentukan program yang akan diterapkan adalah melakukan koordinasi dengan kepala sekolah berkaitan dengan kemampuan menulis anak. Setelah itu, saya melakukan bincang santai dengan rekan guru untuk mengidantifikasi jenis kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan menulis anak. Dari hasil kesepakatan koordinasi tersebut, saya melakukan survei minat menulis, check list, wawancara kepada murid dan orang tua berkaitan dengan aktivitas menulis yang disenangi murid di rumah. Dengan pengumpulan data yang telah dilakukan, akhirnya dapat ditentukan jenis program yang akan diterapkan di kelas 6 yaitu Program “Berkarya dalam Goresan Tinta” yang berbentuk mading.

Langkah selanjutnya adalah memberikan informasi berkaitan dengan program yang akan dilaksanakan murid kelas 6. Saat diberikan informasi, murid sangat antusias dan tidak sabar untuk melaksanakannya. Pada Sabtu tanggal 04 April 2022, murid melakukan diskusi untuk menentukan tim mading, anggota kelompok (terdiri dari 4 – 5 anggota) dan jadwal pemasangan mading. Setelah terbentuk kelompok kecil, mereka melakukan diskusi lagi berkaitan dengan karya apa yang akan ditampilkan melalui mading.

Hasil aksi nyata di SD Negeri 05 Kendawangan ini menunjukan bahwa ada proses belajar aktif yang dilakukan murid yakni mulai dari pembentukan kelompok, pemilihan ketua kelompok yang dilakukan oleh murid sendiri dan penentuan topik/konten yang akan dimuat dalam mading “Berkarya Dalam Goresan Tinta” sampai pada presentasi hasil. Proses “Berkarya Dalam Goresan Tinta” ini guru cukup memberikan lembar kegiatan berbasis proyek, murid bersama anggota kelompoknya bekerja berdasarkan inisiatif kelompok dengan rambu-rambu yang sudah menjadi kesepakatan kelas di awal kegiatan. Dalam pendampingannya, mengingat program ini berbasis proyek, guru melakukan pantauan berdasarkan jadwal progres pelaksanaan. Hal ini menjadi sangat penting, walaupun murid diberikan kebebasan dalam kreativitas karya juga mengajarkan ke murid tentang pentingnya budaya tanggung jawab dan disiplin waktu. Satu hal yang menjadikan saya bangga sebagai guru yakni murid mampu meningkatkan kemampuan pengetahuan dengan pembuatan/penyusunan kliping-kliping bermuatan informasi, mendesain layout berbasis kearifan local, dan presentasi hasil/penyajian. Hal ini jelas membuat otak mereka bisa bekerja secara optimal, menambah wawasan, mempertajam diri dalam menangkap informasi dari sumber bacaan salah satu aksi nyata nya yaitu memiliki jiwa kepemimpinan karena dengan keberanian penuh mampu menciptkan seorang pemimpin yang mampu berkarya original dan berdiri di depan dengan memaparkan hasil karyanya.





Kegiatan literasi yang di lakukan di SD Negeri 05 Kendawangan di atas menunjukan bahwa kegiatan literasi tidak semata – mata hanya membaca di dalam ruangan kelas atau perpustakaan saja melainkan dengan membuat mading terbukti efektif dalam membangkitkan minat dan semangat murid tentang pentingnya budaya positif literasi. Dengan demikian apapun yang menjadi minat dan bakat murid dapat disalurkan dengan baik dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah demi peningkatan potensi murid.

Dari apa yang telah dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program yang dilaksanakan yaitu berkaitan dengan nilai karakter dan nilai kepemimpinan yang sudah berkembang pada murid setelah mengikuti program.

 

Dampak

Dengan melaksanakan Program Berkarya dalam Goresan Tinta”, sudah mulai terlihat keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana. Selain itu, wawasan murid sudah mulai terbuka dalam menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. Murid juga mulai terlihat potensi dalam menulis dan berani mempopulerkan tulisannnya.

Ada beberapa hal penting dalam melaksanakan Program Berkarya dalam Goresan Tinta” yaitu sebagai media saling bertukar informasi melalui tulisan (puisi, cerpen, cerita bergambar, portofolio hasil belajar anak), membangun budaya saling mendengarkan, melatih murid untuk bertanggungjawab, mandiri, dan kreatif, memberikan kesempatan murid untuk berdiskusi, memberikan kesempatan murid untuk membentuk kelompok dan menentukan jadwal pemasangan karya, memberikan kesempatan murid untuk menentukan karya/tulisan yang akan ditampilkan sesuai dengan bakat dan minatnya, melatih untuk berbagi melalui karya yang dipajang. Dan hal-hal penting tersebut sudah mulai tumbuh dan berkembang pada diri murid.

Dengan demikian, maka program ini pada dasarnya di rancang untuk menjadi wadah berkreasi dan berinovasi bagi murid menumbuhkan keberanian untuk tampil dan juga mengedukasi murid akan pentingnya budaya literasi. Murid perlu diperkenalkan betapa pentingnya kegiatan literasi yang dilakukan sehingga sebagai generasi muda penerus bangsa akan selalu menjunjung budaya yang mampu melestarikan budaya membaca. Di perlukan sebuah pembiasaan yang menjadi sebuah budaya. Dengan pelaksanan kegiatan yang berperiodik dan berkelajutan dari program ini maka dampak pada murid dalam hal meningkatkan minat dan bakat serta jiwa kepemimpinan dan juga kepedulian akan literasi akan membuahkan hasil.

B.     Perasaan (Feeling)

Perasaan saat merencanakan aksi nyata ini program yang berdampak pada murid ini adalah merasa senang dan tertantang karena program ini harus menekankan pada aspek dampak langsung pada diri murid misalnya kepedulian aspek lain, literasi, keimanan, kedispilinan, dan aspek lainnya yaitu kemampuan kepemimpinan bisa menjadi bekal murid untuk kehidupan yang lebih baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

 

 

Perasaan saat program ini terlaksana perasaan bahagia dan juga optimis dengan pencapaian program dengan pencapaian program yang sudah berjalan, terlaksananya program ini tidak terlepas dari kolaborasi semua pemangku kepentingan terutama murid yang sangat antusias terlibat dalam program literasi. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan.

 

C.    Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata adalah terwujudnya kepemimpinan murid dalam literasi untuk peningkatan minat bakat serta jiwa kepemimpinan, terwujudnya karakter murid yang memiliki pengetahuan dari sumber – sumber informasi yang diperoleh dan menjadi murid yang berani tampil dan mengekspresikan bakat maupun potensinya pada akhirnya besar harapan saya bahwa program ini akan bisa mewujudkan profil pelajar pancasila.

Dari aksi nyata ini saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu bagiamana saya menyusun dan mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan pemetaan aset model BAGJA. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk suksesnya program ini. Saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas sajanamun harus peduli dan ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid.

 

D.    Penerapan ke Depan (Future)

Recana perbaikan ke depan yaitu lebih mengaktifkan kembali kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah untuk memberikan bimbingan dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat anak selain itu kedepannya perlu pemberian apresiasi berupa reward kepada murid yang memiliki prestasi akademik sebagai bentuk dukungan untuk menambah semangat anak menampilkan kreatifitas dalam melakukan literasi. Selain itu perlu peningkatan kolaborasi guru-guru, murid, orang tua murid, bahkan komunitas literasi di masyarakat dalam hal kegiatan. Pola  pendampingan dan bimbingan dari guru maupun orang tua pada saat murid melakukan kegiatan literasi menjadi penting agar program dapat berjalan sesuai apa yang kita rencanakan.

 

Komentar